Gue tumbuh dengan satu pelajaran yang tidak pernah benar-benar diajarkan secara lisan, tapi terus diulang lewat tatapan, komentar, dan penilaian. Jika rumah tidak rapi, maka ada yang salah dengan perempuannya. Bukan dengan keadaannya, bukan dengan sistemnya, tapi dengan dirinya sebagai perempuan.
Kerapian dan kebersihan bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan identitas. Perempuan yang tidak cekatan, tidak sigap, atau tidak piawai mengurus rumah, dengan cepat dicap tidak becus. Seolah-olah kelelahan tidak pernah sah jika datang dari tubuh perempuan. Seolah waktu, kerja, dan beban emosionalnya tidak pernah cukup untuk menjadi alasan.
Kami sering disebut ‘ratu’ di rumah sendiri. Sebutan yang terdengar indah, tetapi terasa berat. Ratu yang bertanggung jawab atas segalanya, namun jarang diberi kuasa untuk menentukan apa pun. Ratu yang harus memastikan rumah tetap utuh, sekalipun dirinya retak. Di balik metafora itu, ada tuntutan diam-diam. Jika rumah berantakan, maka perempuanlah yang gagal menjaganya.
Di luar rumah, tubuh perempuan tetap berada di bawah pengawasan. Nilainya sering kali ditentukan oleh mata laki-laki. Bagaimana ia tampil, bagaimana ia membawa diri, seberapa pantas ia dipandang. Bahkan ketika perempuan berusaha merawat diri, bersolek, atau tampil cantik, itu kerap dibaca sebagai kewajiban, bukan pilihan. Seakan-akan tubuhnya adalah ruang publik yang bebas dikomentari.
Gue menulis ini bukan untuk menolak rumah, bukan untuk menolak merawat, dan bukan pula untuk menolak kecantikan. Gue menolak gagasan bahwa semua itu adalah syarat untuk dianggap layak sebagai perempuan. Gue menolak ketika kerja yang tidak dibayar disebut kodrat, ketika kelelahan dianggap kelemahan, dan ketika nilai diri harus selalu menunggu persetujuan orang lain.
Perempuan seharusnya tidak terus-menerus diuji hanya untuk diakui sebagai manusia seutuhnya. Kami berhak lelah tanpa rasa bersalah. Berhak memilih tanpa dicurigai. Berhak bernilai bahkan ketika tidak memenuhi ekspektasi siapa pun.
Dan mungkin, yang paling ingin gue katakan adalah bahwa rumah boleh berantakan, tapi hidup perempuan tidak pernah pantas dianggap gagal hanya karena itu.