Mungkin kamu hanya tahu bahwa aku mencintaimu karena kamu orang berada, atau kamu menganggap aku orang yang aneh sehingga aku membuatmu ilfeel. Apa kamu tahu semua yang ada di hati dan pikiranku? Kamu dan aku memang sama, sama-sama manusia biasa yang punya hawa nafsu. Tapi, aku hanya bisa terdiam saat tahu bahwa hati dan pikiran kita jauh dari kata sama.
Aku, kamu, dan 'kita' adalah satu. Itu dulu. Dulu sebelum (mungkin) ada orang ketiga di antara kita. Aku memang tidak bisa menyalahkan orang ketiga itu karena aku tahu bahwa sebenarnya sumber masalah itu adalah dari hatimu dan hatiku sendiri. Ya, ternyata kita sendiri yang pembuat masalah tersebut.
Untuk kamu, mungkin kamu tidak yakin bisa menjaga hatimu sendiri hanya untuk aku seorang di sana. Tapi, apakah kamu masih ingat bahwa dulu kamu pernah meyakinkan aku untuk selalu mencintaimu?
Dan untuk aku sendiri, mungkin memang benar akulah sebenarnya alasan kamu untuk benar-benar menjauh dari kehidupanmu. Aku tahu aku tidak cantik. Berat dan tinggi badanku saja tidak proporsional. Aku memang tak sejenius Einstein. Tapi, apakah benar semua itu adalah alasan kamu meninggalkanku?
Kalau saja aku tahu akan terjadi seperti ini, mungkin aku tak akan pernah mau memberikan hatiku untukmu. Akhirnya pun sekarang aku merasa bahwa ternyata aku hanyalah sebuah pelampiasan cintamu dulu. Entahlah. Aku hanya menebak. Jika memang tebakanku benar, jangan khawatir aku akan terus menyalahkanmu. Jujur aku sendiri saja sampai sekarang belum bisa melupakanmu apalagi membencimu. Aku sadar, semakin aku membencimu semakin rasa sayangku padamu meluap.
Seandainya suatu hari kamu akan mencariku dan meminta hatiku lagi, aku mohon jangan sampai kamu lakukan itu. Karena aku sendiri sudah mengucapkan sebuah doa dari jauh-jauh hari, "Tuhan, semoga dia tidak menjadikanku sebagai pelampiasan cintanya lagi."