aku adalah seorang kakak yang pengecut—
bersembunyi di balik lemari waktu
yang pintunya tak pernah benar-benar tertutup.
aku menyimpan adikku
di saku baju yang sobek,
tiap lubang adalah janji
yang tak sempat kutambal.
aku tahu cara melindungi
dalam teori,
seperti burung yang hafal peta langit
tapi gemetar saat angin benar-benar datang.
ketika suara pecah di rumah
aku memilih jadi jam dinding,
bergerak tapi tak bersuara,
membiarkan detik-detik memukuli lantai
sendirian.
aku belajar mengalah
lebih cepat daripada belajar berani,
menelan kata tidak
hingga berubah jadi debu
di tenggorokan.
aku ingin berdiri di depan
seperti pagar,
tapi tubuhku lebih mirip tirai—
mudah tersingkap,
mudah dilalui.
di malam hari,
rasa bersalah tumbuh seperti jamur
di sudut ingatan,
lembap,
tak pernah benar-benar mati.
aku adalah kakak
yang tahu bahaya
namun memberi alamat yang salah,
yang mencintai
tapi sering datang terlambat.
jika suatu hari
keberanian akhirnya mengetuk,
mungkin aku masih akan gemetar—
tapi kali ini
aku akan membuka pintu
meski tangan berdarah,
meski takut
akhirnya harus disebut
dengan nama sendiri.