January 27, 2026

[tanpa judul]

aku adalah seorang kakak yang pengecut—

bersembunyi di balik lemari waktu

yang pintunya tak pernah benar-benar tertutup.


aku menyimpan adikku

di saku baju yang sobek,

tiap lubang adalah janji

yang tak sempat kutambal.


aku tahu cara melindungi

dalam teori,

seperti burung yang hafal peta langit

tapi gemetar saat angin benar-benar datang.


ketika suara pecah di rumah

aku memilih jadi jam dinding,

bergerak tapi tak bersuara,

membiarkan detik-detik memukuli lantai

sendirian.


aku belajar mengalah

lebih cepat daripada belajar berani,

menelan kata tidak

hingga berubah jadi debu

di tenggorokan.


aku ingin berdiri di depan

seperti pagar,

tapi tubuhku lebih mirip tirai—

mudah tersingkap,

mudah dilalui.


di malam hari,

rasa bersalah tumbuh seperti jamur

di sudut ingatan,

lembap,

tak pernah benar-benar mati.


aku adalah kakak

yang tahu bahaya

namun memberi alamat yang salah,

yang mencintai

tapi sering datang terlambat.


jika suatu hari

keberanian akhirnya mengetuk,

mungkin aku masih akan gemetar—

tapi kali ini

aku akan membuka pintu

meski tangan berdarah,

meski takut

akhirnya harus disebut

dengan nama sendiri.

January 23, 2026

Mengapa Rumah Berantakan Selalu Salah Perempuannya?

Gue tumbuh dengan satu pelajaran yang tidak pernah benar-benar diajarkan secara lisan, tapi terus diulang lewat tatapan, komentar, dan penilaian. Jika rumah tidak rapi, maka ada yang salah dengan perempuannya. Bukan dengan keadaannya, bukan dengan sistemnya, tapi dengan dirinya sebagai perempuan.


Kerapian dan kebersihan bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan identitas. Perempuan yang tidak cekatan, tidak sigap, atau tidak piawai mengurus rumah, dengan cepat dicap tidak becus. Seolah-olah kelelahan tidak pernah sah jika datang dari tubuh perempuan. Seolah waktu, kerja, dan beban emosionalnya tidak pernah cukup untuk menjadi alasan.


Kami sering disebut ‘ratu’ di rumah sendiri. Sebutan yang terdengar indah, tetapi terasa berat. Ratu yang bertanggung jawab atas segalanya, namun jarang diberi kuasa untuk menentukan apa pun. Ratu yang harus memastikan rumah tetap utuh, sekalipun dirinya retak. Di balik metafora itu, ada tuntutan diam-diam. Jika rumah berantakan, maka perempuanlah yang gagal menjaganya.


Di luar rumah, tubuh perempuan tetap berada di bawah pengawasan. Nilainya sering kali ditentukan oleh mata laki-laki. Bagaimana ia tampil, bagaimana ia membawa diri, seberapa pantas ia dipandang. Bahkan ketika perempuan berusaha merawat diri, bersolek, atau tampil cantik, itu kerap dibaca sebagai kewajiban, bukan pilihan. Seakan-akan tubuhnya adalah ruang publik yang bebas dikomentari.


Gue menulis ini bukan untuk menolak rumah, bukan untuk menolak merawat, dan bukan pula untuk menolak kecantikan. Gue menolak gagasan bahwa semua itu adalah syarat untuk dianggap layak sebagai perempuan. Gue menolak ketika kerja yang tidak dibayar disebut kodrat, ketika kelelahan dianggap kelemahan, dan ketika nilai diri harus selalu menunggu persetujuan orang lain.


Perempuan seharusnya tidak terus-menerus diuji hanya untuk diakui sebagai manusia seutuhnya. Kami berhak lelah tanpa rasa bersalah. Berhak memilih tanpa dicurigai. Berhak bernilai bahkan ketika tidak memenuhi ekspektasi siapa pun.


Dan mungkin, yang paling ingin gue katakan adalah bahwa rumah boleh berantakan, tapi hidup perempuan tidak pernah pantas dianggap gagal hanya karena itu.

June 29, 2022

dear me,

Kita diciptakan dalam lingkungan yang di mana ketika menjawab pertanyaan "lo baik-baik aja?" yang tidak dijawab dengan kejujuran, tapi dengan sebuah jawaban yang orang ingin mendengarnya. Setiap orang perlu menahannya tiap waktu. Kita seharusnya tidak menunjukkan emosi kita kepada semua orang. 
Kecacatan dalam masyarakat saat ini adalah berpura-pura dan merasakan sesuatu yang bukan diri kita.

Kita semua manusia dan cenderung hancur di beberapa titik. Setelah memendam emosi kita untuk waktu yang lama, kita harus melepaskan semuanya. Kita perlu menyadari bahwa perasaan tidak baik-baik saja juga tidak apa-apa. Terkadang, kita semua sedih, marah, atau takut. 
Kita perlu menerima perasaan bukan mengolok-oloknya.

Kita punya beberapa pilihan setiap harinya. Kita dapat memutuskan apakah pikiran buruk mengambil alih atau tidak. Kita bisa memutuskan untuk bahagia. Tetapi dengan keputusan bahagia, datanglah saat-saat sedih, marah dan juga takut. Kita tidak bisa selalu bahagia. Kita perlu merasakan apapun yang kita rasakan.
Tanpa perasaan kita akan kosong.

Aspek manusia yang paling menakjubkan bukanlah bahwa kita dapat membangun menara tertinggi atau bahwa kita dapat membuat apa pun, tetapi kita dapat menyadari apa yang kita rasakan. Kita tahu apa yang kita rasakan ketika kita merasakannya. Kita memiliki begitu banyak emosi dan kita dapat berubah begitu cepat di antara mereka. Kita memiliki kekuatan untuk menerima perasaan.
Kita bertahan hidup dengan intuisi kita, tetapi kita hidup dengan emosi.

Dengan dibuatnya tulisan ini, gue sedang berusaha untuk berhenti memberi tahu diri gue sendiri bahwa gue seharusnya melupakan hal-hal negatif dan bersikap positif. Gue menyadari bahwa gue dan semua orang di luar sana, harus melalui masa sulit untuk bahagia. Gue hanya bisa bahagia ketika gue benar-benar menerima saat-saat sulit, menyakitkan, dan menakutkan. Jika tidak, semua momen itu akan terus menyakiti dan menakuti gue, atau membuat gue sedih. 
Gue harus belajar menerima semua perasaan gue agar benar-benar bahagia.